Rabu, 30 September 2009

TEORI PSIKOLOGI INDIVIDUAL- ALFRED ADLER (1870-1937)

Nama : Rissa Rendra Pradhaniasti
No : 13/08/2009
Matakuliah : Psikologi Kepribadian


TEORI PSIKOLOGI INDIVIDUAL- ALFRED ADLER (1870-1937)
1. PENDAHULUAN
Tokoh yang mengembangkan teori psikologi individual adalah Alfred Adler (1870-1937), yang pada mulanya bekerja sama dengan Freud dalam mengembangkan psikoanalisis. Karena ada perbedaan pendapat yang tidak bisa diselesaikan akhirnya Adler keluar dari organisasi psikoanalisis dan bersama pengikutnya dia mengembangkan aliran psikologi yang dia sebut Psikologi Individual (Individual Psychology). Banyak konsep Freud yang diikutinya, antara lain mengenai level kesadaran. Namun Adler menekankan pada faktor kesadaran/unsur ego. Teorinya banyak menyentuh unsur lingkungan sosial sehingga ia juga dikenal sebagai seorang psikoanalis sosial yang pertama. Sebagai seorang pengikut Freud, Adler memilih jalan berbeda dari Freud dan menganggap teori Freud sangat menekankan unsur seksual sehingga kurang realistis. Adler menekankan adanya keunikan pribadi. Setiap pribadi merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat, minat dan nilai-nilai. Setiap perbuatan dilakukan orang secara khas sesuai gaya hidup orang tersebut.
2. PANDANGAN ADLER TENTANG MANUSIA
Adler menjadi pelopor dalam psikologi perkembangan yang mengemukakan teori bahwa “kesadaran” (consiusness) merupakan bagian yang penting dalam kepribadian (personality). Konsep pertama Adler, manusia (the person) adalah mahluk sosial utama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan psikologi sosial, bebeda dengan Freud, Adler berpendapat bahwa kebutuhan pemuasan seksual manusia hanya merupakan salah satu dari banyaknya kebutuhan dasar manusia, hal tersebut tergantung bagaimana cara kita mengatur, merencanakan dan melakukannya dalam aktifitas hidup kita, Adler lebih menekankan kepada bagaimana kita dapat mengekspresikan kebutuhan seksual kita, bukan bagaimana cara melakukannya. Konsep kedua, yaitu tentang diri yang kreatif. Tidak seperti ego Freud, yang terdiri dari kumpulan proses psikologis yang melayani tujuan insting-insting diri, Adler merupakan system subjektif yang menginterpretasikan dan membuat pengalaman-pengalaman organisme penuh arti. Tambahnya lagi, diri mencari pengalaman-pengalaman yang akan membantu pemenuhan gaya hidup sang pribadi yang unik, apabila pengalaman-pengalaman ini tidak ditemukan di dunia maka diri akan berusaha menciptakannya. Konsep ketiga, psikologi Adler menekankan pada keunikan kepribadian. Bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat dan nilai-nilai. Setiap perbuatan yang dilakukan orang membawa corak khas gaya hidupnya sendiri. Adler memandang kesadaran sebagai pusat kepribadian, manusia adalah makhluk sadar, mereka biasanya sadar akan alas an-alasan tingkah laku mereka. Sadar akan inferioritas-inferioritas, sadar akan tujuan-tujuan yang mereka perjuangkan. Lebih dari itu mereka sangat sadar akan dirinya sendiri dan mampu merencanakan serta membimbing perbuatan-perbuatan itu bagi aktualisasi dirinya sendiri.

Bagi Adler, manusia lahir dalam keadaan tubuh yang lemah dan tak berdaya. Kondisi ketidakberdayaan itu menimbulkan perasaan inferioritas dan ketergantungan kepada orang lain. Manusia, menurut Adler, merupakan makhluk yang saling tergantung secara sosial. Perasaan bersatu dengan orang lain ada sejak manusia dilahirkan dan menjadi syarat utama kesehatan jiwanya.

3. STRUKTUR TEORI KEPRIBADIAN ADLER
Berdasarkan paradigma tersebut kemudian Adler mengembangkan teorinya yang secara ringkas disajikan pada uraian berikut:
a. Perjuangan menuju superioritas
Menurut Adler, manusia termotivasi oleh satu alasan utama, alasan tersebut bisa menjadi perasaan inferior dan menjadi superior. Individu memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang menimbulkan perasaan inferioritas. Perasaan inilah yang kemudian menjadi pendorong agar dirinya sukses dan tidak menyerah pada inferioritasnya.
b. Finalisme yang fiktif
Konsep Adler tentang motivasi manusia sangat berlawanan dengan keyakinan Freud. Menurut konsep Adler, perilaku kita ditentukan oleh persepsi kita tentang apa harapan kita untuk mencapai masa depan, bukan pada apa yang telah kita lakukan, atau apa yang kita peroleh di masa lalu. Fenomena psikologis tidak dapat dijelaskan dengan insting, impuls, pengalaman, trauma, tetapi hanya dapat difahami melalui “perspektif (seperti juga fenomena) yang telah diperoleh individu sebelumnya, yang menghubungkan seluruh kehidupan untu mencapai cita-cita. Teori Adler dapat menjadi pemandu perilaku kita dalam mencapai cita-cita. Cita-cita adalah “mimpi” sebab mereka tidak berdasarkan realita. Mereka adalah gambaran ide-ide kita yang mungkin menjadi dasar interpretasi subjektif kita tentang dunia. Mimpi (cita-cita) bukan wujud dari nasib atau takdir.
c. Kesatuan dan konsistensi dalam diri kepribadian
Adler memilih nama psikologi individu (individual psychology) dengan harapan dapat menekankan keyakinan bahwa setiap orang itu unik dan tidak dapat dipecah-pecah. Psikologi individu menekankan pentingnya unitas kepribadian. Pikiran, perasaan, dan kegiatan semuanya diarahkan ke satu tujuan tunggal dan mengejar satu tujuan. Adler (1956) menemukan beberapa ciri operasi secara keseluruhan dengan kesatuan dan konsistensi diri ini. Ciri pertama disebut dengan dialect organ tubuh, Adler mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya mempunyai kelemahan organis. Berbeda dengan hewan, manusia tidak dilengkapi dengan alat-alat tubuh untuk melawan alam. Kelemahan-kelemahan organis inilah yang justru membuat manusia lebih unggul dari makhluk-makhluk lainnya, karena mendorong manusia untuk melakukan kompensasi (menutupi kelemahan). Ciri kedua kesatuan kepribadian adalah harmoni diantara perilaku sadar dan perilaku bawah sadarnya. Adler (1956) mendefinisikan alam bawah sadar sebagai bagian yang tidak terumuskan dengan jelas atau tidak sepenuhnya dimengerti individu. Pikiran-pikiran sadar adalah pikiran yang dimengerti dan yang dijadikan individu sebagai bantuan berharga bagi perjuangannya menuju keberhasilan, sementara pikiran-pikiran bawah sadar adalah pikiran yang tidak dapat membantunya secara langsung.
d. Perasaan inferioritas dan kompensasi
Adler termasuk pada Neo freudian, konsep utamanya lebih kepada perilaku kompensasi dari perasaan kekurangan diri yang nyata (inferiority compleks) menjadi kepada suatu kemampuan tertentu. Inferiority kompleks ini akan menjadi masalah jika masuk pada kondisi neurotik, sehingga kompensasinya berlebihan. Rasa rendah diri (inferior) mendorong seseorang untuk superior, sehingga individu terdorong (memiliki motivasi yang besar) untuk secara terus-menerus bergerak “dari kurang ke lebih, dari bawah ke atas”. Sifat rendah diri menurut Adler, adalah sesuatu yang normal, kita semua berawal sebagai mahluk yang lemah dan kecil. Sifat rendah diri muncul secara konstan ketika kita menemukan tugas yang tidak familier dan baru, yang harus dikuasai. Perasaan ini adalah menjadi penyebab semua perkembangan tingkah laku manusia.
e. Minat sosial (social interest)
Adler menggambarkan minat sosial sebagai suatu kepedulian dan perhatian tentang kesejahteraan orang lain yang terus menerus, sepanjang hidup, untuk memandu perilaku seseorang. Minat social menurut Adler adalah tanggung jawab seorang ibu, bagaimana seorang ibu memberi pengalaman pertama kepada anaknya mengembangkan anak memperluas minat atau ketertarikan pada orang lain, jika tidak maka anak tidak siap untuk mengatasi masalah di sekitarnya, dan system pendidikan dapat menjadi pengganti peran orang tua dalam melatih anaknya.
Minat sosial membuat individu mampu berjuang mengejar superioritas dengan cara yang sehat dan tidak tersesat ke arah maladjusment. Bahwa semua kegagalan, neurotik, psikotik, kriminal, pemabuk, anak bermasalah, menurut Adler, terjadi karena penderita kurang memiliki minat sosial.
Kehidupan sosial menurut Adler merupakan sesuatu yang alami bagi manusia, dan minat sosial adalah perekat kehidupan sosial itu.
Minat sosial menjadi satu-satunya kriteria untuk mengukur kesahatan jiwa. Tingkat seberapa tinggi minat sosial seseorang, menunjukkan kematangan psikologisnya. Orang yang tidak matang psikologisnya kurang memiliki minat sosial, mementingkan diri sendiri, berjuang menjadi superioriti pribadi melampaui orang lain. Sedangkan orang yang sehat secara psikologis, peduli terhadap orang lain dan mempunyai tujuan menjadi sukses yang mencakup kebahagiaan semua umat manusia.
f. Gaya hidup (style of life)
Menurut Adler setiap orang memiliki tujuan, merasa inferior, berjuang menjadi superior. Namun setiap orang berusaha mewujudkan keinginan tersebut dengan gaya hidup yang berbeda-beda. Adler menyatakan bahwa gaya hidup adalah cara unik kita mencapai tujuan yang telah kita tetapkan dalam hidup kita. Masing – masing orang akan mengatur gaya hidupnya agar sesuai dan cocok dengan tujuan akhirnya dan menetukan jalan atau cara untuk memperoleh tujuan tersebut.
g. Diri kreatif
Self kreatif merupakan puncak prestasi Adler sebagai teoris kepribadian. Menurut Adler, self kreatif atau diri kreatif adalah kekuatan ketiga yang paling menentukan tingkah laku (kekuatan pertama dan kedua adalah hereditas dan lingkungan). Self kreatif, menurut Adler, bersifat padu, konsisten, dan berdaulat dalam struktur kepribadian. Keturunan memberi kemampuan tertentu, lingkungan memberi impresi atau kesan tertentu. Self kreatif adalah sarana yang mengolah fakta-fakta dunia dan menstranformasikan fakta-fakta itu menjadi kepribadian yang bersifat subjektif, dinamis, menyatu, personal dan unik. Self kreatif memberi arti kepada kehidupan, menciptakan tujuan maupun sarana untuk mencapainya.
4. PENELITIAN KHAS DARI ADLER
Kepribadian Menurut Urutan Kelahiran
Adler menganggap urutan kelahiran dalam keluarga mempunyai peranan penting dalam membentuk kepribadian seseorang, urutan-urutan tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan dalam menginterpretasikan setiap pengalaman yang didapat.
Adler menggambarkan; anak sulung mendapat perhatian yang utuh dari orangtuanya, sampai perhatian itu terbagi saat ia mendapatkan adiknya. Perhatian dari orang tua cenderung membuat anak memiliki perasaan mendalam untuk menjadi superior atau kuat, kecemasan tinggi dan terlalu dilindungi. Saat kelahiran adiknya, menimbulkan dampak traumatik kepada anak sulung yang turun tahta sebagai anak tunggal. Peristiwa ini mengubah situasi dan mengubah cara pandangnya terhadap dunia sekitarnya.
Anak Sulung Anak kedua Anak Bungsu Anak tunggal
S i t u a s i d a s a r
• Menerima perhatian tidak terpecah dari orang tua
• Turun tahta akibat kelahiran adik dan harus berbagi perhatian • Memiliki model atau perintis, yakni kakaknya
• Harus berbagi perhatian sejak awal • Memiliki banyak model perhatian, walaupun berbagi, tidak berubah sejak awal
• Sering dimanja • Menerima perhatian orangtua tidak terbagi
• Cenderung cukup dengan orang tuanya
• Sering dimanja
D a m p a k p o s i t i f
• Bertanggungjawab, melindungi dan memperhatikan orang lain
• Organisator yang baik • Motivasinya tinggi
• Memiliki interes sosial
• Lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan kakaknya • Kompetisi yang sehat
• Sering mengungguli semua saudaranya.
• Ambisius yang realistik • Masak secara sosial

D a m p a k n e g a t i f
• Merasa tidak aman, takut tiba-tiba kehilangan nasib baiknya
• Pemarah, pesimistik konservatif, perhatian pada aturan dan hukum
• Berjuang untuk diterima
• Tidak kooperatif, sering mengkritik orang lain • Pemberontak dan pengiri permanen, cenderung berusaha untuk mengalahkan orang lain
• kompetitif berlebihan
• Mudah kecil hati
• Sukar berperan sebagai pengikut • Merasa inferior dengan siapa saja
• Tergantung pada orang lain
• Ambisi yang tidak realistik
• Gaya hidup manja • Ingin menjadi pusat perhatian
• Takut bersaing dengan orang lain
• Merasa kedudukan dirinya benar dan setiap tantangan harus disalahkan
• Perasaan kerjasama rendah
• Gaya hidup manja

Tabel: Ciri Kepribadian Menurut Urutan Kelahiran
Pembentukan kepribadian setelah kelahiran adiknya dapat membentuk tanggung jawab kepada orang lain, melindungi orang lain, atau bahkan merasa sebaliknya, ia dapat menjadi merasa tidak aman dan miskin interes sosial. Bila kelahiran tersebut berjarak 3 tahun atau lebih, maka ia akan marah karena ia harus mengakui adiknya, beberapa faktor yang telah dimiliki oleh pengalaman sebelumnya bergabung sebagai interpretasi pengalamannya, bila persiapan dan interes sosialnya baik maka ia akan mengembangkan sikap kooperatif dan ia akan memakai gaya kooperatif itu kepada adiknya. Bila kelahiran adiknya sebelum dia berusia 3 tahun maka kemarahan dan kebencian itu semakin bsar dan tidak disadari, sikap itu menjadi resisten dan sulit diubah pada orang dewasa.

Anak kedua biasanya memulai hidup dalam situasi yang lebih baik untuk mengembangkan kerjasama dan minat sosial. Pada tahap tertentu, kepribadian anak dibentuk melalui pengamatannya terhadap sikap kakanya. Jika sikap kakaknya penuh kemarahan dan kebencian, anak kedua mungkin menjadi sangat kompetitif, atau menjadi penakut dan sangat kecil hati. Umumnya anak kedua tidak mengembangkan kedua arah itu, tetapi masak dengan dorongan kompetisi yang baik, memiliki keinginan yang sehat untuk mengalahkan kakaknya. Jika dia banyak mengalami keberhasilan, anak akan mengembangkan sikap revolusioner dan merasa bahwa otoritas itu dapat dikalahkan.


Anak bungsu, seringkali dimanja, sehingga beresiko tinggi menjadi anak bermasalah. mudah terdorong pada perasaan inferior yang kuat dan tidak mampu berdiri sendiri. Namun demikian ia mempunyai banyak keuntungan, ia termotivasi untuk selalu mengungguli kakak-kakaknya dan menjadi anak yang ambisius.

Anak tunggal mempunyai posisi unik dalam berkompetisi, tidak dengan saudara-saudaranya melainkan dengan kedua orangtuanya. Mereka sering mengembangkan perasaan superior berlebihan, konsep diri rendah dan perasaan bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya bila kedua orangtuanya terlalu menjaga kesehatannya. Adler menyatakan bahwa anak tunggal mungkin kurang baik mengembangkan kerjasama dan minat sosial, memiliki sifat parasit, dan mengharapkan perhatian untuk melindungi dan memanjakannya.
5. KASUS
“ANDRI memutuskan untuk berhenti sekolah dan melupakan segala sesuatu yang telah diraihnya. Sejak peristiwa kecelakaan yang menyebabkan dia kehilangan kedua kakinya membuat andri merasa sangat terpuruk dan kecewa. Andri merasa hidupnya telah hancur dan tidak mampu meraih masa depannya lagi.
Bahkan untuk bertemu orang saja, Andri merasa tidak sanggup dan malu karena harus di pandang sebagai orang cacat. Tadinya Andri seorang remaja SMU yang energik, pintar dan bercita-cita untuk menjadi seorang tentara yang gagah. Dia belajar keras untuk mendapatkan nilai-nilai di raportnya untuk mendukung rencananya melanjutkan pendidikan di akademi militer.
Persiapan fisik juga telah dilakukan, untuk menjagai kesimbangan dan stamina tubuh agar layak memenuhi persyaratan yang ada. Saat itu menjelang ujian akhir sekolah, Andri pergi mengunjungi saudaranya di luar kota, dan ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya kedua kakinya”





6. ANALISIS KASUS
Berdasarkan kasus diatas, inferioritas bukan suatu pertanda abnormal melainkan bentuk penyempurnaan dari manusia. Hal ini dibuktikan dengan berbagai upaya perjuangan Andri untuk menjadi ke arah superior dengan cara belajar keras untuk mendapatkan nilai yang bagus di rapot serta persiapan fisik untuk menjaga stamina tubuh demi mendukung rencananya untuk dapat masuk akademi militer.
Berarti sebelum terjadi peristiwa kecelakaan yang menyebabkan Andri kehilangan kedua kakinya, Andri adalah individu yang berkembang tanpa suatu kompleks inferioritas atau kompleks superioritas yang merupakan manifestasi bentuk abnormal sesuai dengan konsep inferioritas Adler. Bukti bahwa Andri tidak mengalami keabnormalan superioritas komplek adalah bahwa disamping keinginannya memperoleh tujuan untuk kepentingan diri sendiri masih ditunjukkan minat sosial Andri yaitu adanya upaya membina relasi sosial dengan kunjungan terhadap keluarga di luar kota sebelum terjadi kecelakaan.
Gambaran sebagai sosok remaja SMU yang energik mengindikasikan bahwa Andri cenderung berinteraksi dengan orang disekitarnya, aktif, ramah dan mudah bergaul dgn lingkungan. Berdasarkan salah satu paradigma dalam konsep psikologi individualnya Adler mengembangkan teori individualitas sebagai pokok persoalan maka setelah terjadi kecelakaan itu muncul keabnormalan berupa inferioritas komplek. Inferioritas komplek ditandai dengan simptom self image yg buruk yaitu keterpurukan, kekecewaan, malu dan kontak sosial berubah. Tampilan-tampilan perilaku yang mendominasi dalam kasus ini yaitu inferioritas komplek maka individu tersebut akan menunjukkan sikap menolak untuk bekerja sama (lebih tertutup) atau sangat introvert. Rasa tidak mampu dan ragu akan kemampuan muncul karena keterbatasan yang dimilikinya. Dan hal ini sangat mempengaruhi perilaku yang akan dilakukan selanjutnya.

3 komentar:

  1. sangat bermanfaat banget bagi calon-calon konselor

    BalasHapus
  2. Saya sedang mecoba mempelajari individual psychology. Artikel ini sangat membantu.

    BalasHapus
  3. artikel ini sangat membantu saya mengerjakan tugas psikologi kepribadian.

    BalasHapus